oleh: Mirza Tahir Ahmad
Masalah pandangan mengenai keselamatan (syafaat) meskipun terasa sangat sederhana, memiliki potensi bahaya bagi kedamaian dunia agama. Bisa saja suatu agama menyatakan bahwa mereka yang ingin terbebas dari Iblis dan memperoleh keselamatan, agar datang masuk ke agama tersebut karena mereka akan mendapatkan keselamatan (syafaat) dan pembebasan abadi dari dosa. Tetapi tentunya menjadi lain jika agama yang sama itu menyatakan juga bahwa mereka yang tidak mematuhinya akan terkutuk selama-lamanya. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa apa pun yang mereka lakukan untuk menyenangkan Tuhan, seberapa besarnya pun mereka mencintai Penciptanya dan ciptaanNya, semurni apa pun kehidupan mereka, mereka dianggap terkutuk dan masuk neraka abadi.
Kalau pandangan kaku, sempit dan tanpa toleransi demikian dikemukakan dalam bahasa yang provokatif oleh para fanatik, maka akan timbullah kerusuhan-kerusuhan yang dahsyat.
Umat manusia ini terdiri dari berbagai jenis dan ukuran. Sebahagian dari mereka yang memang terpelajar, beradab dan halus akan melakukan reaksi dengan cara yang sama terhadap serangan-serangan yang ditujukan kepada mereka. Hanya saja jika menyangkut agamanya, sebagian besar umat beragama akan bereaksi keras terhadap serangan kepada agama mereka, terlepas dari apakah mereka terpelajar ataukah buta huruf.
Sayangnya justru sikap inilah yang dianut para pemuka agama dari hampir semua agama di bumi ini terhadap mereka yang tidak mau mengikuti keimanan mereka. Bahkan agama Islam pun dikemukakan oleh para ulama abad pertengahan sebagai satu-satunya pintu keselamatan (syafaat) dengan pengertian bahwa setelah turunnya Islam, semua keturunan Adam yang hidup dan mati di luar bayangan Islam a.s. tidak akan memperoleh keselamatan. Agama Nasrani juga pandangannya sama, dan sepanjang pengetahuan saya begitu pula dengan agama-agama lainnya.
Yakinlah bahwa pandangan sempit dan fanatik terhadap agama Islam demikian tidak mengandung kebenaran. Al-Quran memberikan pandangan yang sama sekali berbeda menyangkut hal tersebut.
Menurut Al-Quran, syafaat atau keselamatan bukanlah monopoli salah satu agama di dunia. Meskipun terdapat kebenaran-kebenaran baru yang diungkapkan atau muncul adanya fajar cahaya baru, mereka yang tanpa menyadari hidup dalam ketidaktahuan atau mereka yang mencoba hidup secara lurus meskipun berpedoman pada kepercayaan yang salah, tidak akan dinafikan dari syafaat Allahs.w.t.
Ayat Al-Quran berikut ini akan lebih memperjelas masalah tersebut:
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan tata cara beribadah yang
dijalankan oleh mereka; maka janganlah hendaknya mereka
berbantah dengan engkau dalam urusan tata cara beribadah menurut
Islam; dan ajaklah manusia kepada Tuhan engkau. Sesungguhnya
engkau berada pada petunjuk yang benar. (S.22 Al-Haj: 68)
dijalankan oleh mereka; maka janganlah hendaknya mereka
berbantah dengan engkau dalam urusan tata cara beribadah menurut
Islam; dan ajaklah manusia kepada Tuhan engkau. Sesungguhnya
engkau berada pada petunjuk yang benar. (S.22 Al-Haj: 68)
Di bagian lain, Al-Quran mengemukakan dalam konteks yang sama:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi,
dan orang-orang Sabi, dan orang-orang Nasrani - barangsiapa di
antara mereka benar-benar beriman pada Allah dan Hari Kemudian
dan beramal saleh, maka tak akan ada ketakutan menimpa mereka
tentang yang akan datang dan tidak pula mereka berdukacita tentang
yang sudah-sudah. (S.5 Al-Maidah: 70)
dan orang-orang Sabi, dan orang-orang Nasrani - barangsiapa di
antara mereka benar-benar beriman pada Allah dan Hari Kemudian
dan beramal saleh, maka tak akan ada ketakutan menimpa mereka
tentang yang akan datang dan tidak pula mereka berdukacita tentang
yang sudah-sudah. (S.5 Al-Maidah: 70)
Patut pula diingat bahwa meskipun kata-kata Ahli Kitab biasa diterapkan pada umat Yahudi dan Nasrani, sebenarnya bisa diterapkan pada lingkungan yang lebih luas. Dalam pengertian tiada sesuatu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan dan beberapa ayat lainnya sebagaimana dikemukakan Al-Quran, kita tentunya sependapat bahwa yang dimaksud umat manusia bukanlah hanya mereka yang mengikuti Injil dan Taurat saja sebagai umat yang mendapat Kitab.
Pasti banyak lagi Kitab-kitab lainnya yang sudah pernah diturunkan untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan demikian semua agama yang menyatakan bahwa ajaran mereka berdasarkan wahyu samawi, harus dimasukkan juga sebagai Ahli Kitab.
Pasti banyak lagi Kitab-kitab lainnya yang sudah pernah diturunkan untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan demikian semua agama yang menyatakan bahwa ajaran mereka berdasarkan wahyu samawi, harus dimasukkan juga sebagai Ahli Kitab.
Al-Quran pun menggunakan istilah Sabi yang lebih memperjelas masalah ini dan menghapuskan keraguan yang ada. Kata Sabi digunakan oleh orang Arab untuk menggambarkan umat lain yang jelas non-Arab dan non-Yahudi yang memiliki kitab wahyu tersendiri. Dengan demikian semua pengikut agama-agama yang didasarkan pada wahyu samawi sama memperoleh kepastian bahwa sepanjang mereka tidak memusuhi suatu agama baru dan mereka menjalankan agamanya sendiri dengan sepenuh hati, mereka tidak perlu khawatir akan kemurkaan Tuhan dan mereka tetap berhak atas syafaat.
Al-Quran menjanjikan kepada mereka yang beriman, terlepas apakah mereka itu Yahudi, Nasrani atau pun Sabi bahwa :
... maka untuk mereka adalah ganjaran pada sisi Tuhan mereka,
dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula
dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula
mereka akan berduka cita . (S.2 Al-Baqarah : 63)
Dan :
Dan sekiranya mereka melaksanakan Taurat dan Injil dan apa yang
kini diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya akan
mereka makan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.
kini diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya akan
mereka makan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.
Diantara mereka itu memang ada umat yang mengikuti jalan tengah,
tetapi kebanyakan dari mereka itu sedemikian keadaannya bahwa
amat buruklah apa yang mereka kerjakan. (S.5 Al-Maidah : 67)
Tidaklah mereka semuanya sama. Di antara Ahli Kitab ada satu
golongan yang berdiri teguh atas janjinya; mereka membaca ayat-ayat
Allah di waktu malam dan mereka bersujud kepada-Nya. Mereka
beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan mereka menyuruh
mengerjakan yang baik dan melarang berbuat kejahatan, dan mereka
berlomba-lomba dalam kejbajikan. Dan mereka itu termasuk orang-
orang yang saleh. Dan kebaikan apa jua yang mereka kerjakan,
maka sekali-kali tidak dihalangi dari menerima ganjarannya dan
Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang bertakwa..
amat buruklah apa yang mereka kerjakan. (S.5 Al-Maidah : 67)
Guna menghindari kemungkinan umat Muslim mencela tanpa pertimbangan mereka yang bukan penganut Islam, Al-Quran menyatakan bahwa :
golongan yang berdiri teguh atas janjinya; mereka membaca ayat-ayat
Allah di waktu malam dan mereka bersujud kepada-Nya. Mereka
beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan mereka menyuruh
mengerjakan yang baik dan melarang berbuat kejahatan, dan mereka
berlomba-lomba dalam kejbajikan. Dan mereka itu termasuk orang-
orang yang saleh. Dan kebaikan apa jua yang mereka kerjakan,
maka sekali-kali tidak dihalangi dari menerima ganjarannya dan
Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang bertakwa..
(S.3 Al-Imran : 114-116)
Saat ini sedang berlangsung perselisihan besar yang muncul akibat pertikaian politis antara Yahudi dan Muslim sehingga muncul anggapan menurut penganut Islam bahwa semua orang Yahudi akan masuk neraka. Ini sama sekali tidak benar jika ditinjau dari sudut ayat-ayat Al-Quran yang diuraikan di atas dan berdasarkan ayat berikut :
Dan dari kaum Musa ada satu golongan yang memberi petunjuk
dengan kebenaran dan dengan itu pulalah mereka menjalankan
keadilan di dunia. (S.7 Al-Araf : 160)
dengan kebenaran dan dengan itu pulalah mereka menjalankan
keadilan di dunia. (S.7 Al-Araf : 160)