Friday, August 12, 2011

BERPUASA MENURUT BERBAGAI AGAMA

Oleh Dr. Abid Ahmad

Yang dimaksud berpuasa di sini ialah laku menahan diri dari makan/minum, baik secara lengkap atau pun partial, untuk suatu jangka waktu tertentu. Tindakan ini merupakan kebiasaan sejak zaman purba dan terdapat di hampir semua agama di dunia. Hasil riset ilmiah terakhir menunjukkan bahwa laku puasa akan menyehatkan seseorang dan jika dilaksanakan secara hati-hati akan meningkatkan kemampuan indera  dan  kesadaran. Secara tradisional, puasa biasa dilakukan untuk tujuan mensucikan seseorang atau untuk menebus dosa dan kesalahan. Sebagian besar agama menentukan lamanya waktu serta saat atau musim waktunya berpuasa bagi   para  pengikutnya. Pada sebagian besar agama, umumnya ibadah atau berdoa dianggap sebagai bagian dari laku puasa. Puasa  juga  merupakan cara pelatihan yang baik bagi  phisikal, spiritual dan akhlak manusia. Meski tetapi hanya agama Islam yang memperlakukannya secara khusus.
‘Hai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu supaya kamu terpelihara dari keburukan.’ (S.2 Al-Baqarah:184)

Menurut  Al-Quran,  puasa juga pernah diperintahkan dalam agama- agama sebelum Islam. Agama mana saja yang dimaksud dan apa bedanya dengan  puasa yang dilakukan menurut agama Islam? Puasa dalam agama Kristen Masalah puasa dalam agama Kristen amat sulit dibahas, karena masalah- nya ialah agama Kristiani ini secara keseluruhan agak tekor mengenai pengaturan  syariatnya. Apalagi terdapat perbedaan  pendapat yang mendasar di antara para ulama mereka tentang apakah Yesus  ada memerintahkan berpuasa atau tidak.

Cara  berpuasa  dalam agama Kristiani kelihatannya berubah terus sepanjang waktu dan dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, politik dan ekonomi di setiap masa. Puasa Kristen yang disebut Lent berlangsung selama 40 hari yang diikuti dengan  pertobatan menjelang Paskah. Signifikasi historis dari empatpuluh hari itu bisa ditelusuri ke masa Nabi Musa dan Elias yang as mendatangi Tuhan di  Sinai dan Horeb  setelah  mensucikan diri dengan cara berpuasa empatpuluh hari (Keluaran 24:18 dan I Raja-raja 19:8). Yesus  sendiri berpuasa 40 as hari (Matius 4:2) sebelum memulai dakwahnya. Tentunya beliau juga berpuasa pada Hari Perdamaian yang merupakan tradisi lama dalam agama Yahudi. Terdapat tradisi-tradisi berpuasa yang berbeda tergantung negeri dimana umat Kristiani bermukim. Sebagian ada yang berpantang daging, yang lainnya  berpantang  ikan. Ada yang tidak makan buah-buahan, telur atau makanan  mewah, yang lainnya berpuasa hanya makan roti putih saja. Ada juga  yang menahan diri dari semuanya, tetapi minum tetap diizinkan selama puasa.
Berpuasa dalam agama Kristen pada umumnya  dikaitkan dengan merendahkan diri karena pertobatan (I Raja-raja  21:27, Mazmur 35:13). Puasa juga dikaitkan dengan laku doa (Matius 17:21), khususnya dalam mencari kedekatan kepada Tuhan. Umat  Kristiani  juga memandang puasa sebagai saat godaan (Matius 4:1)  dengan tujuan mencoba mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Kitab Injil juga mengemuka- kan bahayanya melakukan puasa. Puasa  bisa  dianggap  sebagai cara untuk memperoleh sesuatu dari Tuhan  (Yesaya  58:3).  Puasa bias menjadi substitusi pertobatan hakiki (Yesaya 58:5) atau hanya sebagai adat saja (Zakharia 7:5). Puasa yang dilakukan  secara salah malah dianggap sebagai laku pamer diri (Matius 6:16-18), suatu hal yang sepatutnya dihindari dalam puasa. Puasa dalam agama Yahudi Hari Perdamaian (Yom Kippur) adalah hari yang dianggap paling suci dalam kalender umat Yahudi. Yom  Kippur merupakan hari ‘merendahkan diri’ (Imamat 23:27) agar umat Yahudi bisa dibersihkan dari  segala dosa dosa mereka.
Dirayakan delapan hari setelah Rosh Hoshanah (awal dari Tahun Baru Yahudi). Diyakini bahwa pada hari Rosh Hoshanah, Tuhan telah menuliskan nama-nama umat Yahudi didalam ‘buku-buku’  dan pada saat Yom Kippur, penilaian yang dimasukkan dalam ‘buku’ itu lalu dimeterai Tuhan.  Yom Kippur bagi umat Yahudi merupakan kesempatan terakhir untuk memperlihatkan pertobatan dan mengubah penilaian.
Hanya Yom Kippur saja yang dalam Taurat ditetapkan  sebagai saat puasa. Berlangsung selama 25 jam yang dimulai saat sebelum matahari terbenam di hari sebelum Yom Kippur dan berakhir setelah malam di hari  tersebut. Mereka menahan diri dari makan dan minum selama waktu tersebut. Dianggap sebagai hari  untuk  ‘melecut diri’ guna menebus dosa-dosa dari tahun lalu. Pada hari Yom Kippur, fokusnya adalah pada peningkatan spiritual. Salah satu cara untuk itu adalah dengan menahan diri dari makan, kerja, harta benda dan kenikmatan sesaat. Secara khusus ada lima akti- vitas phisikal yang dilarang selama Yom Kippur  yaitu makan dan minum, hubungan suami isteri, mencuci, memakai sepatu kulit dan menggunakan harum-haruman.
Menurut kitab Talmud, makan pada hari sebelum Yom Kippur dianggap sama berberkatnya dengan puasa pada hari Yom Kippur. Makan besar sebelum puasa itu  disebut Suedah Mafseket (makan terakhir). Dalam jamuan itu tidak dihidangkan daging (sapi atau kambing), tetapi unggas boleh. Secara tradisi ada hidangan sup tetapi dengan bumbu dan garam sesedikit mungkin. Umumnya orang Yahudi berbuka puasa dengan hasil olahan susu. Berbuka puasa biasa dilakukan bersama dengan teman dan keluarga
Puasa dalam agama Hindu (termasuk Buddha dan Jain) Agama Buddha dan  Jain sama berkembang sekitar 500 s.M. di India  dan bisa dianggap sebagai sempalan dari agama Hindu. Karena itu puasa di ketiga agama ini sangat mirip satu sama lain. Puasa dalam agama Hindu diindikasikan sebagai pengingkaran kebutuhan phisikal tubuh demi peningkatan spiritual. Menurut kitab suci mereka, puasa akan membantu terciptanya pertobatan dengan dewa-dewa melalui penciptaan hubungan yang harmonis di antara tubuh dan jiwa. Pandangan ini dianggap wajib bagi kemaslahatan manusia, yaitu memenuhi kebutuhan phisikal maupun spiritual dirinya. Umat Hindu menganggap adalah tidak mudah mematuhi jalan keruhanian dalam kehidupan  sehari-hari. Upaya mencari kenikmatan duniawi akan menghalangi manusia untuk berkonsentrasi mencapai peningkatan keruhanian. Karena itu mereka harus berjuang untuk menerapkan kendala atas diri mereka sendiri agar fikiran dapat difokuskan dan salah satu caranya adalah dengan berpuasa.
Puasa tidak saja merupakan bagian dari ibadah, tetapi juga menjadi sarana ampuh  untuk pendisiplinan diri. Puasa merupakan pelatihan fikiran dan tubuh untuk memperkuat diri  menghadapi  cobaan,  agar berteguh hati dalam kesulitan dan tidak gampang menyerah. Menurut filsafat Hindu,  makanan adalah untuk pemuasan indera dan laku melaparkan indera ini akan mengangkatnya ke tingkat perenungan (kontemplasi). Agama Hindu mengajarkan bahwa  ketika  perut  sedang penuh maka fikiran akan mulai tidur, kebijaksanaan membisu dan anggota tubuh tidak lagi melakukan kegiatan yang saleh.
Umat Hindu berpuasa pada hari-hari tertentu seperti Purnama (bulan penuh) dan Ekadasi (hari ke 11 dari dua mingguan). Hari-hari tertentu dalam satu minggu juga ditandai untuk kegiatan puasa, tergantung keinginan individual dan dewa atau dewi favoritnya yang mana. Pada hari Sabtu, mereka berpuasa untuk menyenangkan dewa hari itu yaitu Shani atau Saturnus. Ada yang berpuasa pada  hari  Selasa yang merupakan  hari  keramat bagi Hanoman, sang dewa kera. Pada hari Jumat para penganut dewi Santoshi Mata akan menahan diri dari segala makanan yang masam. Hari-hari festival juga merupakan saat puasa.
Umat Hindu di seluruh India akan berpuasa pada hari-hari raya seperti Shivratri dan Karwa Chauth. Navaratri  merupakan hari raya dimana  orang  berpuasa selama sembilan hari. Umat Hindu di Benggala Barat berpuasa pada hari Ashtami, yaitu  hari kedelapan dari pemujaan dewi Durga. Puasa dalam agama Hindu bias berarti menahan diri dari beberapa jenis makanan tertentu, baik atas alasan  keagamaan  atau pun kesehatan. Sebagai contoh, beberapa kelompok berpuasa garam pada hari-hari tertentu. Sebagaimana diketahui kelebihan garam bisa mengakibatkan tekanan darah tinggi. Jenis puasa umum lainnya  adalah phalahar dimana orang tidak memakan hasil proses biji-bijian dan hanya makan buah-buahan saja.
Prinsip yang mendasari puasa dalam agama Hindu bisa ditemukan dalam kitab Ayurveda. Kitab klasik tentang sistem  medikal  India  ini mengemukakan faktor-faktor yang menjadi penyebab penyakit adalah akumulasi bahan beracun  dalam system pencernaan. Pembilasan secara teratur bahan-bahan beracun itu akan menyehatkan orang. Melalui puasa, organ-organ pencernaan beristirahat dan semua mekanisme tubuh  jadinya  dibersihkan dan diperbaiki. Puasa yang lengkap amat baik bagi  kesehatan. Lagi pula karena tubuh manusia menurut Ayurveda terdiri dari 80% likuid dan 20% solid, maka seperti juga halnya dengan bumi, kekuatan gravitasi bulan akan mempengaruhi bagian likuid dari tubuh. Hal mana akan menimbulkan ketidak-seimbangan emosional yang akan menyebabkan orang menjadi tegang, mudah marah dan kasar. Berpuasa dianggap penawar karena akan menurunkan kadar asam di dalam tubuh yang akan membantu manusia mempertahankan kewarasan dirinya. Selain sebagai cara untuk mengendalikan diet sehari-hari, puasa juga bisa menjadi sarana kendali sosial.
Puasa bisa menjadi bentuk protes sosial tanpa kekerasan seperti yang dilakukan oleh Gandhi misalnya. Laku mogok makan bisa menarik perhatian penguasa kepada suatu hal yang memerlukan perbaikan. Rasa lapar yang  diderita orang ketika puasa akan menjadikan yang bersangkutan memiliki rasa simpati kepada mereka orang-orang miskin yang  seringkali harus menahan lapar. Dalam hal ini puasa berfungsi sosial  dimana masing-masing anggota masyarakat berbagi rasa lapar.   Puasa menjadi  suatu kesempatan guna menggugah yang kaya  untuk  memberikan makan kepada mereka yang miskin.
Puasa dalam agama Sikh Umat Sikh tidak melakukan puasa dalam bentuk  apa pun karena menurut mereka hal itu  tidak ada arti atau manfaatnya. Perlu dikemukakan disini bahwa pendiri agama Sikh yaitu Guru Nanak sebenarnya adalah seorang  Muslim yang melakukan puasa secara teratur. Baru  pada  penggantinya yang kesepuluh yaitu Guru Gobind Singh yang memimpin pada  tahun 1675, maka puasa dihilangkan dari ibadah agama Sikh.
Perbandingan  dengan  puasa dalam agama Islam Islam  memelopori  pembaharuan dari  lembaga  puasa. Perubahannya bersifat radikal, baik dalam arti, ketentuan  atau  pun tujuannya. Agama ini mengatur puasa menjadi suatu yang mudah, alamiah dan efektif. Puasa biasanya menjadi simbol dari kesedihan, perkabungan, penebusan dosa, pengingat pada suatu musibah atau juga sebagai sarana merendahkan diri seperti halnya dalam agama Yahudi  dan Kristiani.  Islam telah merubah secara radikal konsep kelam daripada puasa menjadi  suatu konsep pensucian diri. Bulan saat dilakukan puasa  oleh umat Muslim menjadi bulan ibadah yang ditunggu-tunggu setiap tahun dengan rasa harap dan kegembiraan. Semua itu berbeda sekali dengan suasana perkabungan Syariah Islam yang mengatur puasa bersifat adil dan universal. Sebagai contoh, pada agama-agama terdahulu, puasa biasanya terbatas hanya  pada  beberapa golongan masyarakat tertentu. Pada kasta Brahmana di agama Hindu, puasa hanya diwajibkan bagi pendeta-pendeta tinggi saja. Dalam beberapa agama Latin, biasanya kaum wanita yang harus berpuasa tanpa pengecualian kelas masyarakat. Adapun Islam mengharuskan puasa bagi semua orang yang dianggap dewasa tanpa melihat kelas atau status sosialnya.
Ketentuan mengenai makan sahur merupakan contoh betapa Islam menjadikan puasa suatu kemudahan bagi umatnya.  Orang yang akan berpuasa diizinkan makan sampai dengan sesaat sebelum shalat Subuh. Ketika tiba saatnya berbuka, ketentuan mengatur  agar orang menghentikan puasa begitu matahari terbenam, tanpa menundanya lagi.
Tidur dan istirahat pada siang hari diperkenankan. Kerja rutin tidak dihentikan dan  usaha bisnis tetap bisa berjalan terus. Dalam agama Yahudi dilarang bekerja jika sedang puasa. Lagipula dalam Islam, barang siapa  yang melakukan kesalahan dalam berpuasa tidak akan dihukum, sedangkan  mereka  yang lupa diampuni.
‘.  .  . Allah menghendakikeringanan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu,
. . .’ (S.2 Al-Baqarah:186)
Puasa pada agama lain didasarkan pada kalender syamsiah. Hal itu jadinya memerlukan pengetahuan kalkulasi  dan  astronomi untuk menyusun kalender. Lagipula bulan-bulan  jadinya menetap dengan musim tertentu karena tidak berotasi atau berubah. Puasa dalam Islam didasarkan pada kalender komariah yang  terkait  pada penampakan bulan. Allah  berfirman:
 ‘Mereka  bertanya kepada engkau mengenai bulan sabit. Katakanlah “Itu adalah sarana pengukur waktu bagi kemudahan manusia . . .’ (S.2 Al-Baqarah:190)
Ketentuan itu memudahkan umat Muslim di seluruh  penjuru dunia, timur atau barat, selatan atau utara, di gunung, di desa, buta huruf atau tidak, di hutan atau padang pasir, semua memulai  dan mengakhiri puasa pada saat yang sama tanpa ada kesulitan.  Mengapa bulan yang dijadikan basis awal dan mengakhiri puasa dan bukannya matahari? Ada beberapa pertimbangan untuk itu: Tahun komariah (berdasar bulan) selalu sepuluh atau sebelas hari lebih singkat  dari  tahun syamsiah (berdasar matahari). Jadi, kalau Ramadhan  2001 dimulai pada tanggal 17 November maka puasa tahun 2002 akan dimulai pada 6 November. Akibat daripada ini ialah setiap 36 tahun, setiap Muslim akan pernah  berpuasa di tiap hari dari tahun kalender, bergilir merasakan hari-hari  panas,  hari-hari  dingin, hari-hari panjang, hari-hari pendek.
Muslim di berbagai bagian dunia mempunyai kesamaan dalam jumlah hari  mereka berpuasa dan sama menikmati semua musim secara bergilir. Kalau puasa didasarkan pada kalender syamsiah saja maka Muslim yang kebagian berpuasa dibulan yang panas udaranya, maka ia selamanya  akan melakukannya dalam  suasana yang sama terus menerus. Ada Muslim yang berpuasa dengan hari yang panjang sedangkan yang di tempat lain dengan hari yang pendek  dan  keadaan demikian menetap  terus. Puasa berdasar sistem komariah memungkinkan umat Muslim menikmati buah-buahan secara berangsur bergilir menurut perputaran waktu, sedangkan yang berdasar  sistem syamsiah akan terjadi dimana  orang tidak sempat menikmati buah-buahan dimaksud karena belum saatnya. Karena itu juga maka umat Muslim tidak merubah bulan Ramadhan sebagai saat puasa, tidak juga merubah hari atau bulannya.
Sepanjang sejarah, pada hamper semua agama di dunia ada ibadah puasa yang dianggap sebagai sarana ruhani  untuk mengintensifkan ibadah dan keimanan. Orang berpuasa karena diwajibkan oleh Tuhan, yang pada akhirnya membawa perbaikan pada kesehatan dan spiritualitas. Puasa disadari membawa kesehatan spiritual, mental, emosional dan phisikal. Puasa sekarang ini dianggap sebagai metoda peluruhan racun (detoksifikasi) tubuh yang aman dan efektif, seperti juga telah dilakukan manusia selama berabad-abad untuk menyembuhkan orang yang sakit. Puasa mensucikan tubuh dari akumulasi racun dan bahan buangan  tubuh.  Berpuasa secara teratur akan membantu tubuh menyembuhkan  dirinya sendiri disamping menggugah fikiran dan jiwa. Dunia kedokteran kini juga mengakui puasa sebagai tindakan yang sehat  dan memberikan kemaslahatan tinggi bagi kita, ada yang memang sudah kita ketahui dan ada juga yang belum seperti firman
Tuhan:
‘. . . dan berpuasa  itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.’ (S.2 Al-Baqarah:185)