Showing posts with label Kemerdekaan. Show all posts
Showing posts with label Kemerdekaan. Show all posts

Wednesday, August 17, 2011

PENGABDIAN DAN KESETIAAN AHMADIYAH PADA PERJUANGAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA


“…Mereka (Jemaat Ahmadiyah, pen.) tidak pernah menggunakan taktik pintu belakang atau membonceng kekuatan-kekuatan lain secara tidak sportif dan karena itu tak pernah mendengar berita kericuhan di Indonesia dalam hal Ahmadiyah” (Tempo, 21 September 1974)”

Tidak sedikit putera Ahmadi yang gugur sebagai bunga bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara tercinta ini. Dorongan imaniat yang merupakan hal yang tak terpisahkan dari kehidupan seorang Ahmadi, suatu kecintaan yang tanpa pamrih, yang dilandasi suatu sabda qudus dari Rasul suci Muhammad saw, bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari Iman, mengantarkan Jemaat Ahmadiyah dan warganya untuk selalu tampil berkorban sebangsanya dimanapun mereka berada. Cukilan diatas salah satu dari antara sekian pengakuan pers dunia akan kesetiaan Ahmadiyah kepada pemerintah dan Negara dimana mereka berdiam. Dalam naskah yang ruang lingkupnya sangat terbatas ini tak dapat kami uraikan secara luas dan terperinci, akan tetapi kami berusaha mengemukakan hal-hal sepesifik yang esensil berkenan dengan judul diatas serelevan mungkin.

Berikut ini kami turunkan sebuah catatan pribadi dari seorang mubaligh Ahmadiyah, Sayyid Shah Muhammad . Catatan ini kami kutip langsung dari majalah “Sinar Islam” nomor Yubillium 50 tahun Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Sulh 1355, Januari 1976, No 15/tahun ke-IV. Berikut ini adalah penuturannya:

“…Saya terpaksa harus mengenangkan kembali peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang telah berlalu sekitar tiga puluh tahun, waktu saya masih aktif sebagai missionary Ahmadiyah di Jawa Tengah dan melibatkan diri dalam gejolak api revolusi 17 Agustus 1945, di kala Bangsa Indonesai bangun serentak membela dan menegakan haknya untuk menjadi satu bangsa yang merdeka"
(Catatan Mln. Sayyid Shah Muhammad Al-Jailani yang ditulis tahun 1975. Beliau wafat pada tahun 1983 di Bandung)

Tuesday, August 16, 2011

WAGE RUDOLF SOEPRATMAN, DARI ‘INDONESIA RAYA’ HINGGA AHMADIYAH

Majalah “Suara Ansharullah” edisi 8 Agustus 2009

Tahun 1932, Soepratman mendapat sakit uraf syaraf, disebabkan lelahnya karena bekerja keras. Setelah beristirahat 2 bulan, di Tjimahi, beliau kembali ke Jakarta untuk mengikuti aliran Achmadijah. Sejak April beliau bersama kakaknya bertempat tinggal di Surabaya (Kutipan tulisan Soejono Tjiptomihardjo dalam ‘Buku Kenang-Kenangan 10 tahun Kabupaten Madiun’ halaman 171)

Lahirnya Indonesia Raya

Tanggal 28 Oktober memiliki hubungan yang rapat sekali dengan perasaan dan jiwa serta perjuangan bangsa kita, karena pada hari itulah telah lahir sesuatu, yang kini telah menjadi pusaka bagi bangsa kita, ialah lagu Kebangsaan ‘INDONESIA RAYA’. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, dalam kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 di Jakarta, lagu Indonesia Raya diresmikan sebagai lagu Kebangsaan Indonesia.

Bertepatan dengan peresmian lagu Kebangsaan itu, diucapkan juga dalam Kongres itu sumpah sakti, ialah Sumpah Pemuda berbunyi: “Kita bertanah air satu, ialah Tanah Air Indonesia. Kita berbangsa satu, ialah bangsa Indonesia. Kita berbahasa satu, ialah bahasa Indonesia. 

Sejak detik itu, sumpah itu menjadi sumpah dari bangsa kita seluruhnya. Lagu Kebangsaan dan sumpah bangsa yang dilahirkan dalam Kongres Pemuda itu, terbukti telah menjadi ‘anasir’ yang maha penting dan mendasar. Diatas mana negaer kita sekarang berdiri. Sejak detik itu, lagu kebangsaan Indonesia Raya diakui oleh seluruh bangsa kita sebagai lagu  Nasionalnya, dan kini lagu itu telah dikenal serta  diakui pula oleh seluruh dunia sebagai lagu Kebangsaan Indonesia.