Majalah “Suara Ansharullah” edisi 8 Agustus 2009
Tahun 1932, Soepratman mendapat sakit uraf syaraf, disebabkan lelahnya karena bekerja keras. Setelah beristirahat 2 bulan, di Tjimahi, beliau kembali ke Jakarta untuk mengikuti aliran Achmadijah. Sejak April beliau bersama kakaknya bertempat tinggal di Surabaya (Kutipan tulisan Soejono Tjiptomihardjo dalam ‘Buku Kenang-Kenangan 10 tahun Kabupaten Madiun’ halaman 171)
Lahirnya Indonesia Raya
Tanggal 28 Oktober memiliki hubungan yang rapat sekali dengan perasaan dan jiwa serta perjuangan bangsa kita, karena pada hari itulah telah lahir sesuatu, yang kini telah menjadi pusaka bagi bangsa kita, ialah lagu Kebangsaan ‘INDONESIA RAYA’. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, dalam kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 di Jakarta, lagu Indonesia Raya diresmikan sebagai lagu Kebangsaan Indonesia.
Bertepatan dengan peresmian lagu Kebangsaan itu, diucapkan juga dalam Kongres itu sumpah sakti, ialah Sumpah Pemuda berbunyi: “Kita bertanah air satu, ialah Tanah Air Indonesia. Kita berbangsa satu, ialah bangsa Indonesia. Kita berbahasa satu, ialah bahasa Indonesia.
Sejak detik itu, sumpah itu menjadi sumpah dari bangsa kita seluruhnya. Lagu Kebangsaan dan sumpah bangsa yang dilahirkan dalam Kongres Pemuda itu, terbukti telah menjadi ‘anasir’ yang maha penting dan mendasar. Diatas mana negaer kita sekarang berdiri. Sejak detik itu, lagu kebangsaan Indonesia Raya diakui oleh seluruh bangsa kita sebagai lagu Nasionalnya, dan kini lagu itu telah dikenal serta diakui pula oleh seluruh dunia sebagai lagu Kebangsaan Indonesia.
Dalam masa penjajahan Belanda, lagu Indonesia Raya merupakan pendorong dan pengobar semangat rakyat yang sangat besar artinya bagi perjuangan nasional kita untuk melemparkan (mengusir) penjajahan. Melihat besarnya pengaruh lagu Indonesia Raya atas bangsa kita, Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu menjadi begitu khawatir sehingga Indonesia Raya dijadikan lagu yang terlarang, karena dianggapnya membahayakan. Namun semakin dilaran lagu itu, semakin naiklah harga lagu itu dalam hati rakyat, dan semakin cintalah rakyat kepadanya. Semakin besar kekangan untuk menyanyikannya, bertambah besarnya pengaruh lagu Indonesia Raya sejalan dengan meningkatnya perjuangan bangsa kita.
Lagu Kebangsaan adalah Suatu Kebanggaan
Bagi mereka yang mengerti arti dari lagu kebangsaan, maka sungguh tinggi nilainya lagu kebangsaan itu. Karena itu, memiliki lagu kebangsaan adalah suatu kebanggan bagi tiap-tiap bangsa. Setiap bangsa yang merdeka dan berdaulat pasti memiliki lagu kebangsaan.
Lagu kita, Indonesia Raya dicipta sewaktu bangsa kita berada dalam alam penjajahan, sewaktu kita hidup tertindas dan terhina. Karena itu Indonesia Raya menggambarkan kerinduan bangsa kita terhadap kemerdekaan dan kecintaan terhadap tanah airnya dengan segala isinya. Indonesia Raya menggambarkan juga kebesaran tedak dan ketetapan hati bangsa kita, juga menggambarkan suatu keyakinan yang teguh, bahwa bangsa kita pasti akan merdeka dan Negara kita akan menjadi Negara yang besar, sekalipun pada masa itu masih dijajah oleh bangsa lain.
Memang dari isi dan gaya lagu Indonesia Raya, kita dapat mengetahui bagaimana dalamnya si pencipta (W.R. Soepratman) menyelami lubuk hati bangsa kita pada masa itu. Dengan tepat si pencipta telah menggambarkan bagaimana isi hat dan keinginan serta cita-cita bangsa kita.
Pencipta Indonesia Raya
Ketika kita membicarakan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya, ketika kita mengenang kebesaran arti ‘Indonesia Raya’ bagi bangsa dan Negara kita, maka tidak mungkin dapat dipisahkan: kita akan teringat juga kepada penciptanya, yakni almarhum Wage Rudolf Soepratman. Wajiblah kita mengenang jasa beliau ditengah-tengah masyarakat kita sedang bergolak ini. Soepratman dilahirkan tanggal 9 Maret 1903. pada hari Jum’at Wage di jatinegara (Jakarta) sebagai putera kelima dari keluarga Sersan Soepardjo.
Nama ‘Rudolf’ diberikan oleh ayah angkatnya seorang Sersan Belanda yang bernama Eklich, suami dari kakaknya yang bernama Rakijem. Kakaknya (Rakijem) membawa Soepratman ke Makasar pada tahun 1914. Disinilah beliau melanjutkan sekolahnya. Di Makasar sudah mulai tampak kegemarannya dalam bidang karang mengarang dan Jurnalistik.
Soepratman Berdarah Seniman
Nji Rakijem pandai bermain biola dan Soepratman belajar bermain bola dari kakaknya itu. Karena terdorong oleh kemauan keras dan bakat pembawaan serta latihan-latihan yang tak kunjung patah, lama-kelamaan, tampaklah beliau sebagai penyair dan penggubah yang ulung.
Soepratman Pemuda Pejuang
Pada tahun 1924 beliau kembali ke Jawa, mula-mula tinggal di Surabaya, kemudiaan di Bandung. Di Surabaya kepandaiannya dalam musik menjadi sangat maju, dan disinilah beliau mulai menjadi wartawan dan membantu beberapa surat kabar. Di Bandung beliau menjadi wartawan ‘kaum muda’. Mulai tampak tajam penanya dengan menggambarkan isi hatinya dalam sebuah buku roman yang diberi judul ‘Gadis Desa’ dan yang diterbitkan dengan uangnya sendiri. Tetapi sayang sekali Belanda melarang bukunya itu beredar hingga beliau mendapat kerugian uang yang tidak sedikit jumlahnya. Itu merupakan tekanan lagi bagi jiwa yang ingin berjuang memperbaiki keadaan masyarakat.
Pada tahun 1925 beliau menikah dengan Soedjenah. Hidupnya tidak mementingkan kebendaan dunia, bahkan bertambah pula rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Rasa yang demikian terlukis dalam lagu-lagu kebangsaan buah ciptaannya, antara lain : Di Timur Matahari, Bendera Kita, dan lagu K.B.I. tetapi beliau belum puas dengan lagu kebangsaan yang lebih tepat dengan jiwa dan perjuangan bangsa Indonesia, menuju Indonesia Merdeka. Maka akhirnya selesailah sebuah lagu yang diberi nama ‘Indonesia Raya’.
Lahirnya Indonesia Raya
Dalam Kongres Pemuda Indonesia ke-2 di Jakarta, tanggal 28 Oktober 1928 munculah seorang pemuda dengan orkesnya ‘Indonesia Merdeka’ dan memperdengarkan sebuah lagu yang baru sekali bagi telinga pergerakan kebangsaan. Isi syair dan lagunya sungguh-sungguh mempengaruhi jiwa semua hadirin dalam kongres itu. Lagu itu ialah lagu Indonesia Raya ciptaan Soepratman dan diakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Lagu Indonesia Raya makin terkenal di dunia, namun sebaliknya penciptanya tidak mendapat perhatian seperti lagunya. Beliau hidup dalam kemelaratan dan kekurangan.
Detik Terakhir
Tahun 1932 Soepratman menderita sakit urat syarat, disebabkan lelahnya karena bekerja keras. Setelah beristirahat 2 bulan di Cimahi, beliau kembali ke Jakarta untuk mengikuti aliran Ahmadiyah. Sejak April beliau bersama kakaknya tinggal di Surabaya. Sebelaum beliau bercerai dengan istrinya, karena kesukaran dalam hidupnya. Beliau menderita keletiha batin, karena banyak cita-citanya yang belum tercapati. Dalam kesukaran ini beliau masih dapat menciptakan lagu ‘Surya Wirawan’ dan ‘Mars Parindra’. Secara mendadak beliau jatuh sakit dan lalu meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938. sehari sebelum wafatnya beliau berpesan kepada Nji Rakidjem agar lagu ‘Indonesia Raya’ diserahkan kepada badan kebangsaan untuk disiarkan. W.R. Soepratman telah kembali kehariban Tuhan dalam usia yang masih sangat muda (35 tahun). Saat jenazahnya diberangkatkan ke makam, hanya beberapa kawannya yang mengiringi. Beliau tidak begitu diperhatikan olah masyarakat bangsa kita pada waktu itu. Jenazahnya dimakamkan di Surabaya.
Soeprtman seorang pencipta ulung, seorang seniman, dan seorang pejuang, telah meninggalkan kita selamanya. Badan kasarnya telah kembali ke pangkuan Ibu pertiwi tapi karya ciptanya masih selalu mendengung-dengung memenuhi angkasa pertiwi dan tetap berada di tengah-tengah bangsa kita, rela sejiwa dengan bangsa Indonesia dan tetap bergelora sampai akhir zaman. Marilah setiap saat kita memperingati lagu kebangsaan kita Indonesia Raya itu, kita berdoa sekhidmat-khidmatnya untuk arwah W.R. Soepratman mengenang jasa serta segala pengorbanan yang telah diberikannya untuk kebahagiaan Nusa dan Bangsa.
Meluruskan sejarah dan riwayat hidup Wage Rudolf Soepratman: Pencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia "Indonesia Raya" dan pahlawan nasional
Meluruskan sejarah dan riwayat hidup Wage Rudolf Soepratman: Pencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia "Indonesia Raya" dan pahlawan nasional
Sumber : Buku Kenang-Kenangan 10 Tahun Kabupaten Madiun. Hal 168-171

