Showing posts with label Zafrullah Khan. Show all posts
Showing posts with label Zafrullah Khan. Show all posts

Friday, August 19, 2011

MASALAH PALESTINA


  
Masalah Palestina dan ketegangan di antara Yahudi dan negara-negara Arab tetangganya selalu menjadi topik berita dunia. Dalam artikel ini kami akan kembali ke perdebatan Perserikatan Bangsa-bangsa tanggal 28 November 1947 saat masalah tersebut sedang dibicarakan dan setelah itu terbentuklah negara Israel. Sisanya adalah sejarah.


Disini direproduksi pidato duta Pakistan ke PBB yaitu Chaudry Zafrullah Khan, seorang Ahmadi terkemuka  yang dihormati banyak orang yang mencoba  mengusulkan keadaan berimbang. Kalau saja PBB waktu itu mengikuti nasihatnya, kelompok Arab tidak walk-out dan lobby-lobby rahasia guna menggiring suara tidak diizinkan, maka hasilnya akan jauh lebih damai bagi semua pihak yang berkepentingan. Pidato itu diakui banyak orang sebagai kontribusi terbesar bagi kausa bangsa Arab.

RAPAT PLENO KE DUAPULUHENAM - Diadakan di GeneralAssembly Hall di Flushing Meadow,New York, pada hari Jumat tanggal 28 November 1947, jam 11:00. Ketua: Mr. O. Aranha, Brasilia. Lanjutan bahasan tentang masalah Palestina. Ketua Sidang: Setiap perwakilan diharapkan  menguasai kondisi permasalahannya sebaik mungkin agar bisa mengajukan pertimbangan yang tepat kepada Rapat Sidang Umum. Sebagai Ketua, kami harus mengingatkan agar  peserta tidak bertepuk tangan atau mengganggu  dengan  cara  apa pun perdebatan dalam Sidang Umum ini. Ada sepuluh pembicara yang tercatat dalam daftar kami. Saya mohon agar duta dari Pakistan maju ke mimbar.

Sir  Muhammad ZafrullahKhan (Pakistan): Kami berterima kasih bahwa anda sebagai Ketua Sidang yang telah berharap dan menginginkan adanya diskusi tentang masalah ini berlangsung secara tertib dan tidak terganggu. Apakah nantinya hasil pemungutan suara  akan  sama  bebas  dan tidak terpengaruh adalah suatu hal yang tidak lagi menyangkut masalah kepuasan, namun saya tidak akan mempermasalahkan hal itu disini. Mereka yang tidak memiliki akses info tentang apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar, sekurang-kurangnya mengetahui dari pers sehingga mereka khawatir, tidak saja karena masalah khusus ini tetapi juga tentang pertimbangan yang dilakukan atas masalah-masalah krusial dari dewan akbar ini dimana kepadanya masa depan dunia disandarkan, apakah juga akan bisa selalu bebas.

Sekarang ini  adalah saat yang khidmat, khidmat dalam sejarah dunia dan khidmat dalam sejarah dari organisasi akbar  ini. Perserikatan Bangsa-bangsa saat ini sedang diadili.  Seluruh dunia sedang menonton dan memperhatikan bagaimana dewan ini bisa melepaskan dirinya, bukan hanya tentang disetujui tidaknya partisi (pemisahan) tetapi terutama tentang apakah masih ada ruang tersisa bagi penerapan penilaian dan nurani yang jujur dalam setiap pengambilan keputusan. Kita biasa membaca  sejarah menyusur ke belakang, yang menurut saya adalah cara yang amat salah dalam membaca  sejarah. Untuk bisa menghargai sepenuhnya, sejarah sepatutnya dibaca ke masa depan. Kita sepatutnya menempatkan diri dalam situasi yang akan dievaluasi untuk dari sana melakukan appraisal dan penilaian terhadapnya.