Showing posts with label Ahmadiyya. Show all posts
Showing posts with label Ahmadiyya. Show all posts

Wednesday, November 23, 2011

Jejak Tafsir Kaum Ahmadi

Karya terjemahan Muhammad Ali dicerca tapi juga dipakai sebagai rujukan. RUMAH tinggal Mirza Wali Ahmad Baig, mubaliq Ahmadiyah Lahore, menjadi tempat bertemu orang-orang Muhammadiyah, khususnya anak-anak muda. Mereka terutama belajar bahasa Inggris. Haji Oemar Said Tjokroaminoto dan para anggota Sarekat Islam (SI) juga kerap datang. Hubungan SI dan Muhammadiyah masih akur.
Tjokro tak sekadar belajar bahasa Inggris. Diam-diam dia menterjemahkan karya Maulana Muhammad Ali, presiden Ahmadiyah Lahore, berjudul The Holy Qur’an, ke dalam bahasa Melayu. Dia mendapat dukungan dari Ahmad Baig. “Dia bahkan mengerjakannya di kapal ketika dia, sebagai wakil SI, bersama Haji Mas Mansur dari Muhammadiyah berangkat ke Mekah untuk Mu’tamar ‘Alam Islami,” tulis Tempo, 21 September 1974, merujuk Kongres Islam Internasional (biasa disebut Kongres Mekkah), upaya membangun institusi pan-Islami baru setelah Mustafa Kemal Pasha menghapus sistem khilafah dan mendirikan Republik Turki pada 1924.
Tjokro dan Mas Mansur terpilih sebagai utusan dalam Kongres Al-Islam kelima pada Februari 1926 di Bandung. Kongres Al-Islam sendiri merupakan badan yang didirikan di Garut pada Mei 1924, bertujuan memperluas pengajaran agama dan menganjurkan pendirian Majelis Ulama untuk memutuskan perselisihan-perselisihan antara kaum ulama.

Monday, August 15, 2011

Soekarno tentang Ahmadiyah

oleh Syafi R. Batuah

Sebagaimana pada tiap tanggal 17 Agustus pada tahun-tahun sebelumnya juga pada tanggal 17 Agustus tahun ini telah dibacakan kembali dengan khidmat proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Hal ini insya Allah akan berlaku seterusnya dalam masa datang.

Dengan begitu dalam sejarah Republik Indonesia akan tetap dicatat bahwa yang telah berjuang dan menghantar Indonesia ke kemerdekaan adalah kedua tokoh itu. Hal ini tidak berkurang nilainya, sekalipun Soekarno sebagai Presiden pertama dari negara merdeka Indonesia kemudian telah melakukan tindakan penyelewengan, sehingga badan tertinggi yang mewakili segenap rakyat Indonesia terpaksa memecatnya dari kedudukannya sebagai Kepala Negara.

Bagi Soekarno sendiri hasil perjuangannya untuk kemerdekaan tanah airnya tentu memberi kepuasan kepadanya. Kadang-kadang ia menengok kepada masa silam yang puluhan tahun lamanya di waktu mana dalam perjuangan untuk kemerdekaan itu ia bukan saja bergulat melawan kekuatan penjajah yang sangat besar, tetapi kadang-kadang ia juga mendapat tikaman belakang dari sebagian bangsanya sendiri yang tidak suka dengan sikap dan cara perjuangannya. Dalam pidato-pidatonya sewaktu ia memegang jabatan Presiden Indonesia ia sering mengemukakan usaha-usaha yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak setuju dengan siasat yang dilakukannya untuk pembebasan bangsa dan tanah airnya dari belenggu penjajahan.